Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi payudaranya. Bola matanya seakan memohon kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya.“Aku ingin bercinta denganmu, Santi”, bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Eksanti. Bokep Mas..”, jerit Eksanti panjang. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya kejantananku saat ini. Aku tidak menjawab permintaannya. Aku malah sempat menekan tubuh Eksanti hingga punggungnya bersandar di dinding. Aku mempermainkan puncak-puncak putungnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Eksanti. Eksanti menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Punggungnya melengkung indah. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya.




















