Sesampai di teras rumahnya kutarik tangan Lala ke arahku, kupeluk dia sambil kucium bibirnya, tanganku meremas-remas pantatnya yang tadi sempat manyun-manyun ke arahku (nah setelah tadi aku sempat gemes sama lenggokan pantatnya tuh).Setelah puas peluk dan ciumi dia, aku lari masuk ke dalam Estilloku. Bokep “Iyan,” sahutku pendek. “Hmm… nyepong? Nama kakak perempuannya Widya terus temannya Puput dan si Firly. (gimana yang punya Escudo sudah ingat?) buat hiburan kali yaa..?” aku sama Lala senyum-senyum sampai ketawa lepas deh (meski dipaksakan, kan masih lemes).Kita jalan sambil pelukan. Gila! Aku biarkan Lala merasakan sensasi orgasme keduanya dengan mulai melepaskan celana jeans Hip-hop Airwalk-ku, kukeluarkan si kecil dari dalamanku tapi aku tidak lepaskan dalamanku cuma aku kaitkan saja di bawah biji buahku.Aku naik ke bibirnya, kulumat untuk sekian lamanya sebelum The Real Game-nya kumulai sambil menunggu Lala




















