Melihat itu aku sedikit prihatin.Apa boleh buat, aku masih punya kesempatan yang lain, Minoru berjanji akan menemaniku lagi lain hari, lagian aku juga merekam semua aksi ini, akan menjadi sebuah ancaman jika Minoru tidak memenuhi janjinya.“Ya sudah…”, kataku lalu mencabut kontolku. Bokep Mukanya murung, dia nampaknya terpaksa ke sini, dia tidak berani memandangi wajah kami, dia mungkin masih trauma.Tapi dia tidak berbeda dari kemarin-kemarin, masih tetap cantik. “Aku panggil Minoru lagi buat temani lu…”, jawabnya.“Emangnya lu bisa?”, tanyaku.“Hahaha, aku mana mau nyetuh dia, jijik ah… Aku maunya liat dia tersiksa aja…”, lanjutnya. Aku coba memanfaatkan waktu yang ada dulu untuk melihat Minoru yang cantik.




















