Sedang Kak Tina ke dapur. Aku menikmati saja. Bokep Pantas, Kak Tina tak mengijinkanku membacanya, pikirku. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Waktu mengambil rumput sapi aku memikirkan semua yang terjadi, segalanya begitu fantastis. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di pahanya. Saat mataku melihat lemari Kak Tina yang terbuka (biasanya selalu dikunci), aku tergerak untuk mencari novel yang disembunyikannya. Jantungku berdebar-debar. Tampak raut wajah Kak Tina berubah. Jantungku berdebar kencang. Lalu siapa? Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. Kak Tina tampak kepanasan. Kak Tina mengambil novelnya, hendak menyimpannya di dalam lemari. Seerr, darahku semakin berdesir. “Mimpi..” Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya, “Gak mimpi apa-apa”.




















